RSS

Arsip Bulanan: November 2010

Sirami Bunga Kita Dengan Cinta #dari milis

Hari ini ujian pedo (pediatric dentistry, salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang paling lia sukai…). Aprila Mulia Rahma, drg., Sp, KGA,,, amin amin amin amin, :D). ujian tahap akhir ini Alhamdulillah berhasil membuat lia senyum2 terus, masih kebayang2 aja kejadian pas ujian tadi, ehe2…senaaaaaaaang. Habis tu buka email dan tertegun setelah baca sebuah tulisan dari milis. Jadi pengen share lewat blog ni. bener2 mengharukan… 🙂

Ceritanya…….

Aku ingin menemui suamiku yang sedang duduk dikursi depan sambil memegang mushaf ditangannya. Sepagi ini dia sudah bangun dan membaca Alquran. Aku menghampirinya, berjongkok dikakinya, menyambut tangannya, dan dengan penuh takzim aku cium punggung tangannya. Suamiku, qowwamku tempat aku menyandarkan ketaatanku, karena aku sadar surgaku dititipkan Allah kepadaNya. Hanya dengan mentaati suamiku sperti yg diperintahkan Allah maka aku akan masuk surgaNya kelak. Tak terasa butiran air bening menetes dimataku.

Suamiku diam saja ketika aku mencium tangannya dan menangis. Memang dia sudah paham kenapa aku menangis. Yaa..aku menangis bukan sedih tapi menangis bahagia. Karena aku baru saja membuka surat darinya yg diselipkan dibawah bantalku: “Dek, istriku yang kucintai karena Allah. Aku selalu berharap cinta ini tetap tumbuh karenaNya. Dulu kita bertemu karenaNya, dan kelak kita akan berpisah juga karenaNya. Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm… tak terasa sebentar lagi bunga itu akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini.

Dik, sungguh aku sudah tidak sabar untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya. Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah… aku melamarmu dik…. Padahal, baru dua bulan sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan membuatku terus tertunduk.

Dik, aku juga masih ingat dua hari setelah pernikahan kita, kamu masih tidak mau membuka jilbab didepanku meski aku sudah sah sebagai suamimu. Tidurpun, kita masih berpisah, kamu diatas kasur empuk yang aku belikan beberapa hari sebelum pernikahan, sementara aku harus kedinginan tidur dilantai beralaskan selimut. Hmm, aku masih sering tersenyum sendirian kala mengingat kata-kataku untuk merayumu agar mau membuka jilbab. “Mas cuma ingin tahu, istri mas nih ada telinganya nggak sih”. Kata-kata lembutku pada malam ketiga itu langsung disambar dengan pelototan mata indahmu. “Teruslah dik, mata melotot adik takkan pernah membuat mas takut atau menyerah, malaaah, adik makin terlihat cantik, makin jelas indahnya mata adik”. Setelah kata-kata itu meluncur dari mulut jahilku, bertubi-tubi pukulan sayang mendarat di tubuh dan kepalaku karena adik menganggap aku meledekmu. Tapi waktu itu, aku justru merasakan kehangatan pada setiap sentuhan tanganmu yang mengalir bak air di pegunungan. Karena aku yakin, dibalik pukulan-pukulan kecil itu, deras kurasakan cintamu seiring hujan yang turun sejak selepas maghrib.

Indah bunga mawar di taman mungkin takkan pernah bisa mengungkapkan eloknya cinta kita, cinta yang didasari atas kecintaan kepada Allah. Allah-lah yang menciptakan hati, jiwa dan ragamu begitu rupa sehingga aku mencintaimu. Aku pun berharap, atas dasar cinta Allah pulalah adik mencintaiku. Karena hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.Cinta hakiki adalah cinta kepada zat yang menciptakan cinta itu sendiri, begitu seorang bijak berkata. Cinta tidak dirasa tanpa pengorbanan, kasih sayang bukan sekedar untaian kata-kata indah, dan kerinduan yang terus takkan pernah terwujud jika hanya sebatas pemanis bibir, tambah sang bijak. Langit akan selamanya cerah, bila kita suburkan cinta ini. Mentari takkan pernah bosan bersinar selama kasih antara kita tetap terpatri dan rembulan pun tetap tersenyum, selama kita isi hari-hari dengan segala keceriaan yang jujur.Tak terasa, malam semakin larut dik. Baru saja kudengar dentang jam berbunyi duabelas kali. Sementara tangan ini masih asik dengan pena dan secarik kertas putih. Kan kutulis semua rasa bathinku malam ini, semua keindahan, kehangatan, dan hidup dibawah naungan cinta bersamamu karena Allah.

Tapi, maafkan aku dik, karena aku juga akan mengkhabarimu hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu sebelumnya. Kau sandarkan kepalamu di dadaku, lelap sudah malam menghantarmu tidur. Tapi, ah… bunga kecil kita ternyata belum tidur dik… sesekali kurasakan sentuhan kakinya dari dalam perutmu. Rupanya bunga kecil itu sudah mengenaliku sebagai ayahnya, kurasakan berkali-kali diberbagai kesempatan berdampingan denganmu, tangan-tangan kecilnya berupaya menggapai dan menyentuhku seakan memintaku untuk segera menggendongnya.

Malam ini, ada tangis dihatiku yang tidak mungkin aku curahkan padamu. Karena aku tahu, kaupun sudah cukup sering menahan tangismu agar tidak terlihat olehku. Jadi, mana mungkin aku menambahinya dengan air mataku yang mulai menggenang di bibir kelopak mataku ini.Sebagai suami, aku merasa belum mampu membahagiakanmu dik. Nafkah yang kuberikan kepadamu setiap bulan, tidak pernah cukup bahkan untuk dua minggu pun. Sehingga untuk keperluan dua minggu berikutnya, aku harus meminjamnya dari teman-temanku tanpa sepengetahuanmu dan aku hanya membisikimu, “rizqumminallaah”. Setahun kita menikah, tak sehelaipun pakaian kubelikan untukmu. Bahkan aku sering menangis, saat mengajakmu pergi, adik harus bingung mencari-cari sandal yang layak dipakai. Tak pernah aku mengajakmu untuk berjalan-jalan, karena aku selalu disibukkan dengan segala urusanku, tak peduli hari libur.

Aku selalu berharap adik tampil cantik dan segar sepanjang hari, tapi tak pernah kubelikan adik alat-alat kecantikan. Dan yang terakhir, aku tak kuasa mengingatnya dik, meski berat kita harus melalui saat-saat kita makan dengan makanan seadanya, bahkan tidak jarang kita berpuasa. Waktu itu adik bilang, “Biarlah mas, adik lebih rela makan sedikit dan seadanya daripada kita harus berhutang, karena hidup tidak akan tenteram dan selalu merasa dikejar-kejar”.

Sebentar lagi, bunga kecil itu akan hadir dik. Akankah aku, ayahnya, membiarkannya tumbuh dengan apa adanya seperti yang aku lakukan terhadapmu dik. Bersyukurlah ia karena mempunyai ibu yang sholehah dan selalu menjaga kedekatannya dengan Allah. Karena, walau gizi yang diberikannya kelak tidak sebanyak kebanyakan anak-anak lainnya, tetapi ibunya akan mengalirkan gizi takwa dihatinya, mengenalkan Allah sebagai Rabb-nya, Muhammad sebagai tauladannya dan mengajarkan Al Qur’an sebagai petunjuk jalannya kelak. Ibunya akan mengajarkan kebenaran kepadanya sehingga mampu membedakan mana hak dan mana bathil.Dik,  jika ia lahir nanti, sirami hatinya dengan dzikir, suburkan jiwanya dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an, hangatkan tubuhnya dengan keteguhan menjalankan diennya, baguskan pula hatinya dengan mengajarkannya bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya, ajarkan juga ia berbuat baik kepada orangtua dan orang lain, bimbinglah ia dengan ilmu yang kau punya, sehingga dengan ilmu itu ia tidak menjadi orang yang tertindas. Jadikan jujur sebagai pengharum mulutnya serta kata-kata yang benar, baik, lembut dan mulia sebagai penghias bibirnya. Sematkan kesabaran dalam setiap langkahnya, taburi pula benih-benih cinta di dadanya agar ia mampu mengukir cinta dan kasih sayang dalam setiap perilakunya, dan yang terakhir kenakan takwa sebagai pakaiannya setiap hari.Jika demikian, insya Allah harapan dan do’a kita untuk tetap bersama sampai di surga kelak akan lebih mudah kita gapai. Aku berharap, engkau membaca surat yang kuselipkan di bawah bantalmu malam ini. Dan jika kau telah membacanya esok pagi, jangan katakan apapun kecuali ciuman hangat di tanganku. Karena dengan begitu, aku tahu kau telah membacanya.” BarakallahufikWassalam—————————-

Klinik pedo, 18 nov 2010

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2010 in my notes

 

*DIA*

Dia…
Di persimpangan khayal datang menyapa
Memaksa tuk merasakan hadirnya
Ungkapkan setiap rasa yang buat tertegun
ku tak kuasa memikirkannya
tapi semua memenuhi pikiran tanpa inginku

Dia…
hadir di kala ku tak sedikit pun merasakannya
Seketika mengajarkan kedewasaan yang ternyata begitu sulit dimengerti
Menghadirkan keresahan bercampur harap dan sendu di detik2 yang dilalui
Menuliskan seuntai kisah yang dahulu dia rajut tanpa sadarku
Dan menitipkan asa yang terlalu indah untuk dijamah

dia…
membuatku ingin selami getaran yang dia rasa
hingga kubisa mengerti apa yang kurasa
sadarkah dia, saat ini kuingin merasakan hadirnya tapi tak ingin dia di sini
sungguhku tak bisa mengerti rasa yang dia titipkan

dia…
Berharap dia mengerti akan kebimbangan ini?
Akankah ku bisa pahami kedewasaan yang dia ajarkan?

medan, 18 oktober 2010
11:27 pm
Apartemen muslimah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2010 in poetry