RSS

Cinta di atas kesabaran

31 Jan

Kamil adalah anak tunggal ibunya. Ayahnya telah lama tiada, sehingga dialah yang merawat ibunya seorang diri. Namun, setelah menyelesaikan kuliahnya, dia harus pulang pergi Jakarta – Balikpapan karena bekerja sebagai seorang engineer di sebuah perusahaan minyak multinasional, jadi mau tak mau, ibunya yang telah lama menetap di Bantul, Jogjakarta, harus ditinggalkannya. Walau begitu, ibunya tak keberatan, karena ada keponakannya yang mau menemaninya selama Kamil bekerja.
Tak terasa, tiga tahun sudah Kamil bekerja dan 26 tahun sudah usianya kini. Tapi ibunya belum melihat sedikitpun tanda-tanda Kamil akan memperistri seorang gadis, padahal ibunya sudah sangat merindukan kehadiran seorang cucu untuk menghibur masa-masa tuanya.
Demi memenuhi keinginan sang ibu, diam-diam Kamil mencari sosok wanita yang sesuai dengan idaman hatinya, hingga akhirnya dia berjumpa dengan Nadya, seorang wanita muda lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Nadya, adalah sosok wanita yang aktif dan enerjik. Dia bekerja pada sebuah bank swasta nasional di Jakarta, tempat Kamil biasa bertransaksi mengurus keuangan pribadinya. Hubungan mereka belum terlalu lama, masih dalam hitungan bulan, namun sepertinya mereka cukup serius dalam meretas asmara, apalagi kedua orang tua Nadya sangat mendukung hubungan mereka.
Belum sempat Kamil memberitahu perihal hubungannya dengan Nadya kepada ibunya, ternyata dia telah dijodohkan oleh ibunya dengan seorang gadis dari tempat asalnya sana. Hal itu dia ketahui dari telepon ibunya beberapa hari yang lalu, saat dia tengah sibuk memikirkan rencana pernikahannya dengan Nadya. Saat masa cutinya datang, tak disia-siakannya kesempatan tersebut, diambilnya untuk pulang menemui sang ibu guna menjelaskan hubungannya dengan Nadya, gadis yang dicintainya selama ini.
“Kamil, kamu sudah dewasa nak, sudah saatnya kamu menikah dan memberikan seorang cucu untuk Ibu. Ibu kangen Mil dengan suara tangis bayi di rumah ini. Bulan lalu Ibu bertemu dengan Bu Lina, warga desa sebelah yang baru datang menjemput anak gadisnya dari rumah neneknya di Cirebon sana. Anak gadisnya itu cantik, santun lagi, kelihatannya cocok sama kamu. Ibu juga sudah cerita tentang kamu ke Bu Lina, sepertinya dia suka sama kamu. Kamu mau ya kalau ibu jodohkan dengan anak gadis bu Lina?” ujar ibu Kamil setelah beberapa jam Kamil tiba di rumahnya di Bantul.
Kamil tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya tersenyum pahit guna meredam bimbang yang berkecamuk di kepalanya. Entah bagaimana caranya dia harus menjelaskan hubungannya dengan Nadya selama ini, karena dia tak ingin mengecewakan hati ibunya. Benar-benar bagai makan buah simalakama apa yang dialami Kamil, menyampaikan salah, tidak disampaikan juga salah, semua serba salah.
“Kalau kamu mau, nanti sore kita berkunjung ke rumah Bu Lina ya,” pinta ibunya.
“Ya Bu, insya Allah,” sahut Kamil dengan berat hati.
Sore itupun Kamil bersama ibunya datang ke rumah Bu Lina. Disambut bu Lina sekeluarga, lalu,
“Ini Zainab, putrinya Bu Lina, Mil,” terang ibunya kepada Kamil setibanya di rumah bu Lina.
Kembali Kamil tersenyum sementara Zainab mengangguk seraya ikut tersenyum malu, kemudian sambil menunduk,perlahan Zainab beralih meninggalkan mereka untuk masuk menuju kamar, menyembunyikan diri dan menguping pembicaraan dari balik tembok kayu kamar pribadinya tersebut.
Beberapa menit berselang, dialog dua keluarga itupun berlangsung hangat, berbagai topik seputar kehidupan masing-masing keluarga hingga topik utama tentang perjodohan antara Kamil dan Zainab, tak luput pula dari pembicaraan kedua keluarga sore itu.
Kamil yang selama pembicaraan lebih banyak pasif, akhirnya buka mulut juga saat ditanya tentang perjodohan yang ditujukan padanya. Masih dengan berat hati dia menjawab,
“Sebelumnya saya mohon maaf, saya bukan bermaksud menolak perjodohan ini, tapi saya sudah punya calon istri pilihan sendiri di Jakarta sana.”
“Bu, maafkan Kamil kalau sudah mengecewakan Ibu,” lanjut Kamil sambil menunduk kepada ibunya.
Pak Ridwan, suami Bu Lina cukup bijak menanggapi respon Kamil,
“Nak Kamil, Bapak sudah tahu bagaimana nak Kamil sejak lama, karena memang ayah Nak Kamil adalah teman Bapak. Bapak, Bu Lina dan ibumu nggak maksa kok nak, kalau memang Nak Kamil sudah punya calon sendiri dan merasa keberatan bila dijodohkan dengan Zainab, putri Bapak, ya tidak apa-apa. Tapi alangkah baiknya kalau Nak Kamil mau mempertimbangkan lebih jauh lagi, sebelum benar-benar menolaknya nanti.”
“Ya Pak, makasih atas pengertiannya. Tapi kalau nggak keberatan mungkin saya bisa berdiskusi dulu dengan Zainab, sekalian ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke dia,” respon Kamil.
“Ya, nggak papa, bapak tidak keberatan kalau memang itu mau Nak Kamil. Sebentar ya, Bapak panggilkan Zainab dulu,” kata Pak Ridwan.
Kamil mengangguk, tak lama Zainab keluar dari kamarnya dan ikut bergabung kembali bersama keluarganya untuk berdiskusi dengan Kamil dan ibunya. Merasa baru berkenalan dan belum terlalu akrab, Kamil dan Zainab masih tampak malu dan saling menundukkan pandang. Terhempas dalam hati Kamil akan rasa bersalahnya terhadap Nadya yang dicintainya, tapi coba disingkirkannya rasa itu jauh-jauh, bahwa apa yang dilakukannya saat ini hanyalah perkenalan biasa tanpa bermaksud mengkhianatinya.
Membuka pembicaraan dengan Zainab, kamil melontarkan pertanyaan,
“Maaf, saya manggil Zainab, adik aja ya?”
“Ya mas, nggak papa,” sahut Zainab.
“Apa dik Zainab nggak keberatan dijodohkan dengan saya?”
“Nggak mas, saya sama sekali nggak keberatan,” jawab Zainab.
“Lalu kenapa dik Zainab mau dijodohkan? Bukannya adik bisa mencari calon suami sendiri?”
“Ya, sebenarnya saya bisa nyari calon sendiri, tapi urung saya lakukan. Sedangkan saran perjodohan ini saya ikuti sebagai bentuk bakti saya kepada orang tua. Saya yakin bahwa Bapak dan Ibu pasti memilihkan calon suami yang terbaik untuk saya, insya Allah,” terang Zainab kembali.
“Kenapa adik begitu taat dan berbakti dengan kedua orang tua adik?”
“Orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya mas. Bertahun-tahun saya dirawat dan diberi kasih sayang oleh mereka, meskipun akhirnya beberapa tahun belakangan kami berjauhan, saya tinggal menemani nenek di Cirebon, sementara Bapak dan Ibu di Bantul sini, tapi kasih sayang mereka tak pernah berhenti dicurahkan untuk saya. Saya anak Bapak dan Ibu, anak kandung mereka, kalau bukan kepada mereka, terus kepada siapa lagi saya harus taat? Bukankah kewajiban seorang anak untuk taat dan berbakti pada orang tuanya? Kecuali nanti setelah menikah, maka kewajiban sayalah untuk taat dan berbakti pada suami,”
Kamil diam sejenak, kemudian melanjutkan pertanyaannya,
“Kalau adik sudah bersuami, siapa yang akan adik taati pertama kali, suami atau orang tua? Bagaimana kalau perintah orang tua atau suami ternyata tidak sesuai dengan hati nurani adik atau bahkan tidak sesuai dengan ajaran agama, apa adik akan tetap taat?”
“Pernikahan adalah penyerahan tanggung jawab orang tua kepada laki-laki yang kelak menjadi suami dari anak perempuannya, dalam hal ini saya anak perempuan tersebut. Jadi karena saya berada dibawah tanggung jawab suami setelah pernikahan nanti, maka yang harus saya taati pertama kali adalah suami, bukan orang tua. Kalau perintah yang saya terima, baik dari suami atau orang tua, ternyata bertentangan dengan agama, bahkan dengan hati nurani saya sendiri, maka saya tidak wajib untuk taat mas, tapi saya diwajibkan untuk berdoa dan mengingatkan mereka di atas kesabaran,”
“Terus bagaimana kalau suami atau orang tua adik berbuat salah? Apa adik akan tetap bersabar?”
“Ya, insya Allah saya akan tetap bersabar dan mendoakan mereka,”
”Apakah menurut adik, sabar dapat mengubah sikap suami atau orang tua yang salah?”
“Kita ini manusia biasa yang lemah dan tak berdaya melawan takdir Allah, Mas. Hanya Allahlah yang bisa mengubah sikap dan hati manusia, bukan kita. Tugas kita hanya berdoa dan mengingatkan mereka di atas kesabaran,”
“Andai dengan kesabaran itu adik tetap menderita, apakah adik akan tetap bersabar? Dan bukankah sabar ada batasnya?”
“Insya Allah saya akan tetap bersabar Mas, meskipun itu pahit dan menyakitkan untuk saya. Bagi kita orang-orang yang beriman, sabar itu tidak ada batasnya, dia luas tak bertepi sebagaimana luas dan tak bertepinya pertolongan Allah untuk kita, orang-orang beriman yang bersabar,”
“Semisal Adik dicalonkan dengan laki-laki yang sudah beristri dan Adik diminta untuk menjadi madunya, apakah Adik akan tetap bersabar?”
“Insya Allah tetap mas, meskipun sebenarnya hati kecil saya menolak. Tapi sebisa mungkin saya akan meminta pada orang tua, agar saya dijodohkan dengan laki-laki yang tak beristri, karena saya tidak mau merusak rumah tangga laki-laki yang sudah beristri dengan menyakiti hati istrinya tersebut.”
“Dan bila suami adik menikah lagi, apa yang akan adik lakukan? Bersabarkah ataukah menuntut cerai?”
“Tak ada satupun wanita di dunia ini yang mau untuk dimadu, termasuk saya. Tapi kalau suami tetap menginginkannya, saya akan berusaha untuk ikhlas mas, walau itu terasa berat bagi saya. Bahkan Siti Aisyah, istri Rasul sendiri aja begitu cemburu pada Siti Khodijah, apalagi saya, wanita yang lemah dan tak berdaya ini. Sedang untuk cerai, tak elok rasanya saya meminta cerai, karena walau diizinkan tapi hal itu dibenci oleh Allah. Tapi kalau sikap suami sudah kelewat batas, bahkan hingga mengancam akidah dan nyawa saya maupun anak-anak, maka saya akan mohon petunjuk pada Allah dengan beristikhoroh, cerai ataukah tetap mempertahankan pernikahan saya dengan suami, karena Dia lebih tahu mana pilihan yang terbaik untuk hidup saya. Tapi insya Allah, saya akan berusaha untuk tetap berdiri di atas kesabaran, meskipun itu pahit untuk saya jalani,”
“Jadi, apa yang adik cari dengan kesabaran adik dalam hidup ini?”
“Ridho Allah Mas, ridho Allah. Karena ridho Allah itu berat. Ridho orang tua adalah ridho Allah dan ridho suami juga ridho Allah. Tidaklah mudah untuk mendapatkan ridho Allah itu, kadang harus dicapai dengan ujian dan pengorbanan, bahkan dengan darah dan air mata, namun kadang akal kita yang tidak sanggup memahaminya, karena keterbatasan ilmu kita sebagai manusia,”
“Meski harus menderita, apa Adik akan tetap menjalani itu semua demi mencapai ridho Allah?”
“Kalau kita ikhlas akan segala kehendak dan takdir Allah, insya Allah apa yang kita jalani di dunia ini akan terasa ringan walaupun sebenarnya berat, karena kita tahu bahwa ada Allah di belakang kita. Sedangkan penderitaan, penderitaan itu hanya ada kalau kita berharap banyak pada selain Allah. Kalau kita berharap hanya kepada Allah, maka penderitaan itu tidak akan pernah ada,”
“Oooo…Lalu apa adik akan tetap mencintai orang tua atau suami adik meskipun adik menderita?”
“Insya Allah mas, tetap, karena memang kewajiban kitalah untuk mencintai orang tua dan pasangan kita.”
“Bicara tentang cinta, apa sih arti cinta untuk adik?”
“Bagi saya, cinta bukanlah sekedar menemukan seseorang yang kita bisa hidup dengannya, tapi cinta adalah menemukan seseorang yang kita tak bisa hidup tanpanya. Cinta bukan pula sekedar menemukan seseorang yang pas dan tepat untuk kita, namun lebih dari itu, cinta adalah menemukan seseorang yang jiwanya pas dan sesuai dengan jiwa kita, satu hati, satu jiwa. Karena cinta adalah jiwa hidup manusia. Maka banyak orang menyebutnya soulmate, kekasih hati yang jiwanya benar-benar menyatu dengan jiwa kita. Bukankah kita hidup di dunia ini juga karena cinta? Cinta orang tua kepada kita, dan yang paling hakiki adalah cinta Allah kepada kita, hamba-hambaNya.”
Terpana Kamil mendengar penjelasan Zainab, lalu dia melanjutkan pertanyaan terakhirnya,
“Bagaimana adik mencintai suami adik nantinya? Apakah karena ketampanan, harta, wibawa, atau silsilah keluarganya yang bisa membuat adik tetap mencintai suami adik?”
“Cinta itu misteri mas, dia tumbuh karena ada cinta Allah di dalamnya. Saya ingin mencintai suami saya nanti tanpa alasan apapun, tapi cukup karena Allah semata. Ketampanan dan kecantikan tidaklah abadi, hartapun tidaklah abadi, bahkan silsilah keluarga juga tidak ada yang abadi, karena semua itu adalah semu, penuh fatamorgana, sedangkan yang kekal abadi adalah iman.
Sebagai contoh, bila saya mencintai suami saya nanti hanya karena ketampanan serta harta dan wibawanya semata, maka saat terjadi musibah yang merenggut ketampanannya, memusnahkan hartanya dan menghancurkan kewibawaannya, maka tak ada lagi yang bisa saya cintai dari suami saya kalau memang sebab saya mencintainya adalah itu. Jadi, cukup satu kesimpulan bagi saya, bahwa cinta tak butuh alasan apapun, tapi cinta hanya butuh iman untuk memupuk cinta itu sendiri, sehingga saya tetap mencintai suami saya karena iman kepada Allah.
Selain itu, bukankah dengan cinta hati akan selalu berdoa, dan dengan berdoa hati akan selalu belajar mencinta?”
Kamil menghentikan pertanyaannya, namun dia tak bisa menghentikan kekagumannya akan jawaban Zainab kepadanya. Dia hanya bisa bergumam dalam batinnya, “Subhaanallooh…”
Dan tak lama pembicaraan kedua keluarga itupun berakhir dengan ramah tamah. Namun kebimbangan masih menggelayut dalam hati Kamil, dia masih harus memilih, Nadyakah atau Zainab yang akan mendampingi hidupnya, sebuah pilihan yang berat bagi dirinya kini.
Mereka pun pulang. Di rumah, masih dalam kebimbangan, Kamil istirahat sejenak untuk meredakan goyah hatinya seraya merenung memikirkan dialog singkatnya dengan Zainab tadi dan membandingkannya dengan Nadya, gadis yang telah dicintainya selama ini.
Tak kuasa menahan bimbang, kamil mengambil air wudhu dan menggelar sajadah untuk beristikhoroh, bermunajat memohon petunjuk akan pilihan terbaik untuknya.
“Beri hamba pilihan terbaik dariMu ya Robb… kalau memang salah satu dari kedua wanita ini bukan jodoh hamba, maka bantu hamba untuk melepaskannya tanpa menyakiti hatinya”
Begitu doa Kamil yang dipanjatkan setelah doa istikhorohnya dimohonkan kepada Allah.
Beberapa hari lamanya Kamil terus berdoa memohon petunjuk, karena baginya, kedua wanita yang kini dihadapkannya memiliki kelebihan dan keistimewaan masing-masing, Nadya dengan ketangguhannya sebagai wanita karir dan Zainab dengan keanggunannya sebagai wanita cerdas.
Meski keduanya sama-sama baik, tapi sepertinya hati Kamil makin lama makin berat pada Zainab, seolah kepadanyalah hati Kamil mulai berlabuh, apalagi diperkuat dengan dorongan sosial dari orang-orang terdekatnya yang menyarankan Kamil untuk memilih Zainab. Mungkinkah ini jawaban Allah atas istikhorohnya selama ini? Kamil menduga-duga sendiri dalam keraguannya.
Kalau memang demikian, bagaimana dia harus mengatakan hal ini ke Nadya dan mengakhiri hubungan dengannya? Seribu tanda tanya masih berkecamuk dalam alam logika bawah sadarnya, sambil terus berucap, “Tolong hamba ya Allah…”
*****
“Selamat Mas atas kelahiran putra pertamanya. Nad juga ikut senang, mas sudah menjadi ayah sekarang. Nad minta maaf, karena dulu Nad harus memutuskan hubungan dengan Mas, bukan Nad bermaksud menyakiti hati Mas, tapi karena Nad nggak ingin melihat Mas sedih seorang diri menunggu Nad menyelesaikan studi S2 dan S3 Nad di Amerika yang bakal makan waktu lama hingga bertahun-tahun. Nad ikhlas kalau memang ada wanita lain yang bersedia untuk menggantikan Nad di sisi Mas, asalkan Mas mau mencintai dia seperti Mas mencintai Nad dulu. Sekarang Mas sudah mendapatkannya, Nad yakin dia pasti wanita yang baik dan solihah untuk mendampingi hidup Mas. Sekali lagi selamat ya Mas…
Nadya Myra Wardhani”
Sebuah email dari Nadya diterima Kamil di kotak masuk emailnya. Sebuah email yang menjelaskan posisi Nadya saat ini dan keputusan Nadya yang telah memutuskan hubungannya dengan Kamil tempo hari.
Memang saat Kamil bimbang dengan pilihannya, ternyata di sisi lain Nadya mendapat pengumuman bahwa pengajuan beasiswa Fullbright-nya diterima, dia berhak melanjutkan studi di George Washington University, Amerika Serikat, selama beberapa tahun, sehingga dia harus meninggalkan Indonesia, termasuk meninggalkan Kamil, laki-laki yang sempat singgah di hatinya.
Atas izin Nadya, kini Kamil telah menikah dengan Zainab, wanita yang baru satu hari dikenalnya saat itu dan yang dijodohkan oleh orang tuanya. Perkenalan dan perjodohan yang amat singkat, tapi cukup berkesan baginya. Sekarang, satu tahun sudah pernikahan mereka, dan satu amanah pula telah diberikan pada mereka, yaitu seorang anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Benarlah kata pepatah, kalau memang sudah jodoh, pasti tak akan kemana.

Subhanallah… belajar banyak dari kisah ini… banyak hal yang perlu digaris bawahi dan dicontoh dari kisah ini
Dikutip dari note hembusan nafas kehidupan yang dipostkan tanggal 26 januari 2011
berharap dengan nge-share ke blog ini juga bermanfaat bagi semua

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in my notes

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: