RSS

Arsip Bulanan: Januari 2011

Cinta di atas kesabaran

Kamil adalah anak tunggal ibunya. Ayahnya telah lama tiada, sehingga dialah yang merawat ibunya seorang diri. Namun, setelah menyelesaikan kuliahnya, dia harus pulang pergi Jakarta – Balikpapan karena bekerja sebagai seorang engineer di sebuah perusahaan minyak multinasional, jadi mau tak mau, ibunya yang telah lama menetap di Bantul, Jogjakarta, harus ditinggalkannya. Walau begitu, ibunya tak keberatan, karena ada keponakannya yang mau menemaninya selama Kamil bekerja.
Tak terasa, tiga tahun sudah Kamil bekerja dan 26 tahun sudah usianya kini. Tapi ibunya belum melihat sedikitpun tanda-tanda Kamil akan memperistri seorang gadis, padahal ibunya sudah sangat merindukan kehadiran seorang cucu untuk menghibur masa-masa tuanya.
Demi memenuhi keinginan sang ibu, diam-diam Kamil mencari sosok wanita yang sesuai dengan idaman hatinya, hingga akhirnya dia berjumpa dengan Nadya, seorang wanita muda lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Nadya, adalah sosok wanita yang aktif dan enerjik. Dia bekerja pada sebuah bank swasta nasional di Jakarta, tempat Kamil biasa bertransaksi mengurus keuangan pribadinya. Hubungan mereka belum terlalu lama, masih dalam hitungan bulan, namun sepertinya mereka cukup serius dalam meretas asmara, apalagi kedua orang tua Nadya sangat mendukung hubungan mereka.
Belum sempat Kamil memberitahu perihal hubungannya dengan Nadya kepada ibunya, ternyata dia telah dijodohkan oleh ibunya dengan seorang gadis dari tempat asalnya sana. Hal itu dia ketahui dari telepon ibunya beberapa hari yang lalu, saat dia tengah sibuk memikirkan rencana pernikahannya dengan Nadya. Saat masa cutinya datang, tak disia-siakannya kesempatan tersebut, diambilnya untuk pulang menemui sang ibu guna menjelaskan hubungannya dengan Nadya, gadis yang dicintainya selama ini.
“Kamil, kamu sudah dewasa nak, sudah saatnya kamu menikah dan memberikan seorang cucu untuk Ibu. Ibu kangen Mil dengan suara tangis bayi di rumah ini. Bulan lalu Ibu bertemu dengan Bu Lina, warga desa sebelah yang baru datang menjemput anak gadisnya dari rumah neneknya di Cirebon sana. Anak gadisnya itu cantik, santun lagi, kelihatannya cocok sama kamu. Ibu juga sudah cerita tentang kamu ke Bu Lina, sepertinya dia suka sama kamu. Kamu mau ya kalau ibu jodohkan dengan anak gadis bu Lina?” ujar ibu Kamil setelah beberapa jam Kamil tiba di rumahnya di Bantul.
Kamil tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya tersenyum pahit guna meredam bimbang yang berkecamuk di kepalanya. Entah bagaimana caranya dia harus menjelaskan hubungannya dengan Nadya selama ini, karena dia tak ingin mengecewakan hati ibunya. Benar-benar bagai makan buah simalakama apa yang dialami Kamil, menyampaikan salah, tidak disampaikan juga salah, semua serba salah.
“Kalau kamu mau, nanti sore kita berkunjung ke rumah Bu Lina ya,” pinta ibunya.
“Ya Bu, insya Allah,” sahut Kamil dengan berat hati.
Sore itupun Kamil bersama ibunya datang ke rumah Bu Lina. Disambut bu Lina sekeluarga, lalu,
“Ini Zainab, putrinya Bu Lina, Mil,” terang ibunya kepada Kamil setibanya di rumah bu Lina.
Kembali Kamil tersenyum sementara Zainab mengangguk seraya ikut tersenyum malu, kemudian sambil menunduk,perlahan Zainab beralih meninggalkan mereka untuk masuk menuju kamar, menyembunyikan diri dan menguping pembicaraan dari balik tembok kayu kamar pribadinya tersebut.
Beberapa menit berselang, dialog dua keluarga itupun berlangsung hangat, berbagai topik seputar kehidupan masing-masing keluarga hingga topik utama tentang perjodohan antara Kamil dan Zainab, tak luput pula dari pembicaraan kedua keluarga sore itu.
Kamil yang selama pembicaraan lebih banyak pasif, akhirnya buka mulut juga saat ditanya tentang perjodohan yang ditujukan padanya. Masih dengan berat hati dia menjawab,
“Sebelumnya saya mohon maaf, saya bukan bermaksud menolak perjodohan ini, tapi saya sudah punya calon istri pilihan sendiri di Jakarta sana.”
“Bu, maafkan Kamil kalau sudah mengecewakan Ibu,” lanjut Kamil sambil menunduk kepada ibunya.
Pak Ridwan, suami Bu Lina cukup bijak menanggapi respon Kamil,
“Nak Kamil, Bapak sudah tahu bagaimana nak Kamil sejak lama, karena memang ayah Nak Kamil adalah teman Bapak. Bapak, Bu Lina dan ibumu nggak maksa kok nak, kalau memang Nak Kamil sudah punya calon sendiri dan merasa keberatan bila dijodohkan dengan Zainab, putri Bapak, ya tidak apa-apa. Tapi alangkah baiknya kalau Nak Kamil mau mempertimbangkan lebih jauh lagi, sebelum benar-benar menolaknya nanti.”
“Ya Pak, makasih atas pengertiannya. Tapi kalau nggak keberatan mungkin saya bisa berdiskusi dulu dengan Zainab, sekalian ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke dia,” respon Kamil.
“Ya, nggak papa, bapak tidak keberatan kalau memang itu mau Nak Kamil. Sebentar ya, Bapak panggilkan Zainab dulu,” kata Pak Ridwan.
Kamil mengangguk, tak lama Zainab keluar dari kamarnya dan ikut bergabung kembali bersama keluarganya untuk berdiskusi dengan Kamil dan ibunya. Merasa baru berkenalan dan belum terlalu akrab, Kamil dan Zainab masih tampak malu dan saling menundukkan pandang. Terhempas dalam hati Kamil akan rasa bersalahnya terhadap Nadya yang dicintainya, tapi coba disingkirkannya rasa itu jauh-jauh, bahwa apa yang dilakukannya saat ini hanyalah perkenalan biasa tanpa bermaksud mengkhianatinya.
Membuka pembicaraan dengan Zainab, kamil melontarkan pertanyaan,
“Maaf, saya manggil Zainab, adik aja ya?”
“Ya mas, nggak papa,” sahut Zainab.
“Apa dik Zainab nggak keberatan dijodohkan dengan saya?”
“Nggak mas, saya sama sekali nggak keberatan,” jawab Zainab.
“Lalu kenapa dik Zainab mau dijodohkan? Bukannya adik bisa mencari calon suami sendiri?”
“Ya, sebenarnya saya bisa nyari calon sendiri, tapi urung saya lakukan. Sedangkan saran perjodohan ini saya ikuti sebagai bentuk bakti saya kepada orang tua. Saya yakin bahwa Bapak dan Ibu pasti memilihkan calon suami yang terbaik untuk saya, insya Allah,” terang Zainab kembali.
“Kenapa adik begitu taat dan berbakti dengan kedua orang tua adik?”
“Orang tua yang melahirkan dan membesarkan saya mas. Bertahun-tahun saya dirawat dan diberi kasih sayang oleh mereka, meskipun akhirnya beberapa tahun belakangan kami berjauhan, saya tinggal menemani nenek di Cirebon, sementara Bapak dan Ibu di Bantul sini, tapi kasih sayang mereka tak pernah berhenti dicurahkan untuk saya. Saya anak Bapak dan Ibu, anak kandung mereka, kalau bukan kepada mereka, terus kepada siapa lagi saya harus taat? Bukankah kewajiban seorang anak untuk taat dan berbakti pada orang tuanya? Kecuali nanti setelah menikah, maka kewajiban sayalah untuk taat dan berbakti pada suami,”
Kamil diam sejenak, kemudian melanjutkan pertanyaannya,
“Kalau adik sudah bersuami, siapa yang akan adik taati pertama kali, suami atau orang tua? Bagaimana kalau perintah orang tua atau suami ternyata tidak sesuai dengan hati nurani adik atau bahkan tidak sesuai dengan ajaran agama, apa adik akan tetap taat?”
“Pernikahan adalah penyerahan tanggung jawab orang tua kepada laki-laki yang kelak menjadi suami dari anak perempuannya, dalam hal ini saya anak perempuan tersebut. Jadi karena saya berada dibawah tanggung jawab suami setelah pernikahan nanti, maka yang harus saya taati pertama kali adalah suami, bukan orang tua. Kalau perintah yang saya terima, baik dari suami atau orang tua, ternyata bertentangan dengan agama, bahkan dengan hati nurani saya sendiri, maka saya tidak wajib untuk taat mas, tapi saya diwajibkan untuk berdoa dan mengingatkan mereka di atas kesabaran,”
“Terus bagaimana kalau suami atau orang tua adik berbuat salah? Apa adik akan tetap bersabar?”
“Ya, insya Allah saya akan tetap bersabar dan mendoakan mereka,”
”Apakah menurut adik, sabar dapat mengubah sikap suami atau orang tua yang salah?”
“Kita ini manusia biasa yang lemah dan tak berdaya melawan takdir Allah, Mas. Hanya Allahlah yang bisa mengubah sikap dan hati manusia, bukan kita. Tugas kita hanya berdoa dan mengingatkan mereka di atas kesabaran,”
“Andai dengan kesabaran itu adik tetap menderita, apakah adik akan tetap bersabar? Dan bukankah sabar ada batasnya?”
“Insya Allah saya akan tetap bersabar Mas, meskipun itu pahit dan menyakitkan untuk saya. Bagi kita orang-orang yang beriman, sabar itu tidak ada batasnya, dia luas tak bertepi sebagaimana luas dan tak bertepinya pertolongan Allah untuk kita, orang-orang beriman yang bersabar,”
“Semisal Adik dicalonkan dengan laki-laki yang sudah beristri dan Adik diminta untuk menjadi madunya, apakah Adik akan tetap bersabar?”
“Insya Allah tetap mas, meskipun sebenarnya hati kecil saya menolak. Tapi sebisa mungkin saya akan meminta pada orang tua, agar saya dijodohkan dengan laki-laki yang tak beristri, karena saya tidak mau merusak rumah tangga laki-laki yang sudah beristri dengan menyakiti hati istrinya tersebut.”
“Dan bila suami adik menikah lagi, apa yang akan adik lakukan? Bersabarkah ataukah menuntut cerai?”
“Tak ada satupun wanita di dunia ini yang mau untuk dimadu, termasuk saya. Tapi kalau suami tetap menginginkannya, saya akan berusaha untuk ikhlas mas, walau itu terasa berat bagi saya. Bahkan Siti Aisyah, istri Rasul sendiri aja begitu cemburu pada Siti Khodijah, apalagi saya, wanita yang lemah dan tak berdaya ini. Sedang untuk cerai, tak elok rasanya saya meminta cerai, karena walau diizinkan tapi hal itu dibenci oleh Allah. Tapi kalau sikap suami sudah kelewat batas, bahkan hingga mengancam akidah dan nyawa saya maupun anak-anak, maka saya akan mohon petunjuk pada Allah dengan beristikhoroh, cerai ataukah tetap mempertahankan pernikahan saya dengan suami, karena Dia lebih tahu mana pilihan yang terbaik untuk hidup saya. Tapi insya Allah, saya akan berusaha untuk tetap berdiri di atas kesabaran, meskipun itu pahit untuk saya jalani,”
“Jadi, apa yang adik cari dengan kesabaran adik dalam hidup ini?”
“Ridho Allah Mas, ridho Allah. Karena ridho Allah itu berat. Ridho orang tua adalah ridho Allah dan ridho suami juga ridho Allah. Tidaklah mudah untuk mendapatkan ridho Allah itu, kadang harus dicapai dengan ujian dan pengorbanan, bahkan dengan darah dan air mata, namun kadang akal kita yang tidak sanggup memahaminya, karena keterbatasan ilmu kita sebagai manusia,”
“Meski harus menderita, apa Adik akan tetap menjalani itu semua demi mencapai ridho Allah?”
“Kalau kita ikhlas akan segala kehendak dan takdir Allah, insya Allah apa yang kita jalani di dunia ini akan terasa ringan walaupun sebenarnya berat, karena kita tahu bahwa ada Allah di belakang kita. Sedangkan penderitaan, penderitaan itu hanya ada kalau kita berharap banyak pada selain Allah. Kalau kita berharap hanya kepada Allah, maka penderitaan itu tidak akan pernah ada,”
“Oooo…Lalu apa adik akan tetap mencintai orang tua atau suami adik meskipun adik menderita?”
“Insya Allah mas, tetap, karena memang kewajiban kitalah untuk mencintai orang tua dan pasangan kita.”
“Bicara tentang cinta, apa sih arti cinta untuk adik?”
“Bagi saya, cinta bukanlah sekedar menemukan seseorang yang kita bisa hidup dengannya, tapi cinta adalah menemukan seseorang yang kita tak bisa hidup tanpanya. Cinta bukan pula sekedar menemukan seseorang yang pas dan tepat untuk kita, namun lebih dari itu, cinta adalah menemukan seseorang yang jiwanya pas dan sesuai dengan jiwa kita, satu hati, satu jiwa. Karena cinta adalah jiwa hidup manusia. Maka banyak orang menyebutnya soulmate, kekasih hati yang jiwanya benar-benar menyatu dengan jiwa kita. Bukankah kita hidup di dunia ini juga karena cinta? Cinta orang tua kepada kita, dan yang paling hakiki adalah cinta Allah kepada kita, hamba-hambaNya.”
Terpana Kamil mendengar penjelasan Zainab, lalu dia melanjutkan pertanyaan terakhirnya,
“Bagaimana adik mencintai suami adik nantinya? Apakah karena ketampanan, harta, wibawa, atau silsilah keluarganya yang bisa membuat adik tetap mencintai suami adik?”
“Cinta itu misteri mas, dia tumbuh karena ada cinta Allah di dalamnya. Saya ingin mencintai suami saya nanti tanpa alasan apapun, tapi cukup karena Allah semata. Ketampanan dan kecantikan tidaklah abadi, hartapun tidaklah abadi, bahkan silsilah keluarga juga tidak ada yang abadi, karena semua itu adalah semu, penuh fatamorgana, sedangkan yang kekal abadi adalah iman.
Sebagai contoh, bila saya mencintai suami saya nanti hanya karena ketampanan serta harta dan wibawanya semata, maka saat terjadi musibah yang merenggut ketampanannya, memusnahkan hartanya dan menghancurkan kewibawaannya, maka tak ada lagi yang bisa saya cintai dari suami saya kalau memang sebab saya mencintainya adalah itu. Jadi, cukup satu kesimpulan bagi saya, bahwa cinta tak butuh alasan apapun, tapi cinta hanya butuh iman untuk memupuk cinta itu sendiri, sehingga saya tetap mencintai suami saya karena iman kepada Allah.
Selain itu, bukankah dengan cinta hati akan selalu berdoa, dan dengan berdoa hati akan selalu belajar mencinta?”
Kamil menghentikan pertanyaannya, namun dia tak bisa menghentikan kekagumannya akan jawaban Zainab kepadanya. Dia hanya bisa bergumam dalam batinnya, “Subhaanallooh…”
Dan tak lama pembicaraan kedua keluarga itupun berakhir dengan ramah tamah. Namun kebimbangan masih menggelayut dalam hati Kamil, dia masih harus memilih, Nadyakah atau Zainab yang akan mendampingi hidupnya, sebuah pilihan yang berat bagi dirinya kini.
Mereka pun pulang. Di rumah, masih dalam kebimbangan, Kamil istirahat sejenak untuk meredakan goyah hatinya seraya merenung memikirkan dialog singkatnya dengan Zainab tadi dan membandingkannya dengan Nadya, gadis yang telah dicintainya selama ini.
Tak kuasa menahan bimbang, kamil mengambil air wudhu dan menggelar sajadah untuk beristikhoroh, bermunajat memohon petunjuk akan pilihan terbaik untuknya.
“Beri hamba pilihan terbaik dariMu ya Robb… kalau memang salah satu dari kedua wanita ini bukan jodoh hamba, maka bantu hamba untuk melepaskannya tanpa menyakiti hatinya”
Begitu doa Kamil yang dipanjatkan setelah doa istikhorohnya dimohonkan kepada Allah.
Beberapa hari lamanya Kamil terus berdoa memohon petunjuk, karena baginya, kedua wanita yang kini dihadapkannya memiliki kelebihan dan keistimewaan masing-masing, Nadya dengan ketangguhannya sebagai wanita karir dan Zainab dengan keanggunannya sebagai wanita cerdas.
Meski keduanya sama-sama baik, tapi sepertinya hati Kamil makin lama makin berat pada Zainab, seolah kepadanyalah hati Kamil mulai berlabuh, apalagi diperkuat dengan dorongan sosial dari orang-orang terdekatnya yang menyarankan Kamil untuk memilih Zainab. Mungkinkah ini jawaban Allah atas istikhorohnya selama ini? Kamil menduga-duga sendiri dalam keraguannya.
Kalau memang demikian, bagaimana dia harus mengatakan hal ini ke Nadya dan mengakhiri hubungan dengannya? Seribu tanda tanya masih berkecamuk dalam alam logika bawah sadarnya, sambil terus berucap, “Tolong hamba ya Allah…”
*****
“Selamat Mas atas kelahiran putra pertamanya. Nad juga ikut senang, mas sudah menjadi ayah sekarang. Nad minta maaf, karena dulu Nad harus memutuskan hubungan dengan Mas, bukan Nad bermaksud menyakiti hati Mas, tapi karena Nad nggak ingin melihat Mas sedih seorang diri menunggu Nad menyelesaikan studi S2 dan S3 Nad di Amerika yang bakal makan waktu lama hingga bertahun-tahun. Nad ikhlas kalau memang ada wanita lain yang bersedia untuk menggantikan Nad di sisi Mas, asalkan Mas mau mencintai dia seperti Mas mencintai Nad dulu. Sekarang Mas sudah mendapatkannya, Nad yakin dia pasti wanita yang baik dan solihah untuk mendampingi hidup Mas. Sekali lagi selamat ya Mas…
Nadya Myra Wardhani”
Sebuah email dari Nadya diterima Kamil di kotak masuk emailnya. Sebuah email yang menjelaskan posisi Nadya saat ini dan keputusan Nadya yang telah memutuskan hubungannya dengan Kamil tempo hari.
Memang saat Kamil bimbang dengan pilihannya, ternyata di sisi lain Nadya mendapat pengumuman bahwa pengajuan beasiswa Fullbright-nya diterima, dia berhak melanjutkan studi di George Washington University, Amerika Serikat, selama beberapa tahun, sehingga dia harus meninggalkan Indonesia, termasuk meninggalkan Kamil, laki-laki yang sempat singgah di hatinya.
Atas izin Nadya, kini Kamil telah menikah dengan Zainab, wanita yang baru satu hari dikenalnya saat itu dan yang dijodohkan oleh orang tuanya. Perkenalan dan perjodohan yang amat singkat, tapi cukup berkesan baginya. Sekarang, satu tahun sudah pernikahan mereka, dan satu amanah pula telah diberikan pada mereka, yaitu seorang anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Benarlah kata pepatah, kalau memang sudah jodoh, pasti tak akan kemana.

Subhanallah… belajar banyak dari kisah ini… banyak hal yang perlu digaris bawahi dan dicontoh dari kisah ini
Dikutip dari note hembusan nafas kehidupan yang dipostkan tanggal 26 januari 2011
berharap dengan nge-share ke blog ini juga bermanfaat bagi semua

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in my notes

 

Jawaban istikharah cinta

“Insya Allah, aku akan kenalkan kamu ke temanku, dia adalah sahabat baikku saat kuliah di Bandung dulu. Sekarang dia kerja di Jakarta dan menetap di sana.” kata Faruq kepada Dianti, sahabat perempuannya semasa sekolah dulu.
Dianti adalah seorang wanita sarjana bidang pendidikan yang saat ini meniti karir di sebuah lembaga bimbingan belajar di Surabaya. Usianya yang dewasa menjadikannya cukup matang untuk melangkah ke jenjang pernikahan, tapi sayangnya hingga saat ini belum ada satu lelaki pun yang datang untuk meminangnya. Sebagai wanita, tentu rasa sedih menyelinap di lubuk hatinya, namun mampu ditutupnya rasa sedih itu dengan kesibukan dalam pekerjaan yang cukup menyita waktu dan perhatiannya.
Seperti orang tua kebanyakan, orang tuanya pun ingin agar Dianti segera mendapatkan seorang jodoh. Seorang jodoh dari kalangan lelaki terpelajar yang taat lagi soleh agar dapat menjadi imam untuk dirinya kelak.
Sebagai bentuk usahanya untuk mendapatkan jodoh dambaan hati, Dianti meminta tolong pada sahabatnya, Faruq, agar berkenan mendoakannya sembari berharap supaya jodoh yang diharapkannya segera datang. Faruq pun berbesar hati untuk menerima permintaan sahabatnya itu, mendoakannya, bahkan lebih dari itu, ia bermaksud mengenalkan Dianti kepada Sersan, teman baiknya semasa kuliah di Bandung dulu.
“Serius kamu mau kenalkan aku dengan temanmu? Makasih ya Faruq, kamu memang teman baikku, mudah-mudahan perkenalan ini bisa membawa kebaikan. Semoga dia adalah jodohku ya Ruq,” ujar Dianti kepada Faruq.
“Amiiin… semoga ya, kita hanya bisa berusaha, Allah lah penentu segalanya. Kita sama-sama berdoa semoga Allah meridhoi usaha ini dan kalian dipersatukan olehNya dalam suatu ikatan suci, pernikahan,” tandas Faruq menimpali jawaban Dianti.
Hari demi hari berlalu, waktu pun terlewati dengan seribu harapan yang membuncah luas dalam hati Dianti. Harapan akan hadirnya seorang lelaki soleh yang bisa mengajaknya untuk sama-sama taat kepada Allah, Tuhannya. Namun sebagai wanita, kadang muncul rasa minder dan rendah diri dalam hati Dianti, merasa bahwa masih banyak kekurangan yang melekat dalam hatinya.
“Tapi aku minder Ruq, aku hanya wanita biasa yang nggak cantik, apalagi aku hanya lulusan sebuah perguruan tinggi biasa, yang nggak seperti dia yang lulusan perguruan tinggi terkenal di negeri ini, mana mungkin dia mau sama aku,” sergah Dianti suatu hari, menerangkan semua perasaan negatifnya yang bergelut menjadi satu dalam pikirannya.
“Dianti, apa salahnya kalau semua ini dicoba, janganlah kamu rendah diri seperti itu. Kita nggak tahu siapa jodoh kita dan bagaimana kehidupan kita nanti. Kita hanya bisa berusaha, dan mungkin inilah salah satu usaha itu. Kalau kamu berkata begitu, sama saja kamu nggak bersyukur dengan apa yang sudah kamu dapatkan selama ini. Kamu pintar, sarjana dan pekerjaanmu juga mapan, lalu apa yang membuatmu merasa minder? Optimislah dan tetap percaya diri,” terang Faruq menyemangati Dianti agar tidak rendah diri terhadap perkenalan ini.
“Kekuranganku banyak Ruq, lalu bagaimana aku harus menutupi kekuranganku ini semua? Aku takut kalau aku bukan tipe wanita idaman Sersan. Apalagi iman dan ilmuku juga tidak sebaik Sersan.” tambahnya lagi.
“Sersan bukan lelaki yang suka aneh-aneh, dia tidak memandang kecantikan dan harta dari seorang wanita, tapi yang dia pandang adalah ketaatannya pada Allah. Kalau memang kekuranganmu banyak, bukankah setiap orang pasti punya kekurangan, bahkan tanpa terkecuali? Kamu punya kekurangan dan Sersan pun juga punya kekurangan. Justru lebih baik kamu tampil apa adanya, tidak menutupi kekuranganmu daripada hanya menunjukkan sisi baikmu saja. Nah, dengan adanya pernikahan, maka suami selayaknya menjadi pakaian untuk menutupi kekurangan istri dan istri pun menjadi pakaian untuk menutupi kekurangan suami, demikian juga dengan kamu dan Sersan nantinya. Kamu adalah pakaian untuk Sersan dan Sersan adalah pakaian untuk kamu. Lalu tentang iman dan ilmu yang kamu rasa kurang, bukankah setelah menikah nanti kalian bisa belajar bersama? Sersan menjadi ladang dakwah untukmu dan kamu menjadi ladang dakwah untuknya. Kewajiban Sersanlah untuk menarbiah atau mendidik kamu dan kewajibanmulah untuk menarbiah atau mendidik Sersan. Bukankah hidup menjadi lebih indah bila saling mengingatkan dan melengkapi?” Jawab Faruq lagi berusaha menghibur hati Dianti.
Sersan, demikian julukan akrab ala tentara yang biasa ia terima dari teman-temannya. Sersan tidaklah seperti Dianti yang suka minder. Dia tipe lelaki yang penuh percaya diri namun sederhana. Kesederhanaan yang ditampakkannya dalam berpenampilan, bersikap dan berbicara. Suatu karakter kuat yang diperolehnya dari didikan tegas kedua orang tuanya di pelosok sebuah desa di kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tak ada sosok necis, parlente apalagi gaul yang menyelimuti dirinya, benar-benar jauh dari penampilan lelaki kebanyakan yang seusia dengannya.
“Faruq, apalah yang bisa kubanggakan dari diriku ini, aku bukan lelaki yang ganteng apalagi kaya. Kamu juga tahu bagaimana kedua orang tua dan keluargaku di desa sana. Kami bukan dari keluarga mapan, bahkan untuk biaya sekolah dan kuliahku dulu pun, aku harus berjuang keras kesana kemari agar aku berhasil. Makanya dalam mencari istri, yang kucari adalah seorang wanita yang mau menerimaku apa adanya. Cantik bukanlah patokan utamaku, yang terpenting dia taat kepadaku, mampu menentramkan batinku, dan mau bantu aku untuk merawat orang tuaku terutama bapak yang telah renta dan sakit-sakitan,” ujar Sersan kepada Faruq.
Sersan sadar bahwa masalah jodoh bukanlah masalah sederhana yang dapat diukur dari kecantikan dan harta yang berlimpah semata, tapi kemuliaan akhlaklah yang akan menentramkan hati bagi setiap pria, terutama hati Sersan, hingga membuat para suami pantas terlahirkan sebagai lelaki.
Dianti pun menimpali pertanyaan Sersan.
“Insya Allah aku akan berusaha menjadi wanita yang solihah, wanita yang taat pada suamiku kelak. Bagaimanapun juga, orang tuanya adalah orang tuaku, dan orang tuaku adalah orang tuanya juga. Aku akan bantu merawat bapaknya juga, apa yang menjadi kewajibannya adalah kewajibanku dan apa yang menjadi kewajibanku adalah kewajibannya juga nantinya,” ujar Dianti kepada Faruq.
“Syukurlah, Alhamdulillah kalau memang kamu bisa memahami kondisi Sersan dan keluarganya saat ini,” ujar Sersan menanggapi kata-kata Dianti.
Begitulah komunikasi dan perkenalan yang terjadi di antara mereka. Namun selama ini komunikasi mereka bertiga hanya sebatas telepon dan sms, Dianti menghubungi Sersan melalui Faruq, dan sebaliknya, Sersan pun menghubungi Dianti melalui Faruq juga. Jadi tidak terhubung secara langsung antara Dianti dan Sersan.
Pernah suatu ketika, Faruq merasa lelah harus menjadi perantara diantara mereka berdua, sehingga agar komunikasi lebih mudah, Faruq menyarankan mereka agar berkomunikasi secara langsung perihal ta’aruf yang sedang mereka jalani ini. Mereka pun menyetujuinya.
Beberapa kali untuk sekian lamanya mereka berdua berkomunikasi secara langsung, Sersan menghubungi Dianti dan Dianti pun menghubungi Sersan, baik melalui telepon maupun sms, namun pembicaraan mereka hanya sebatas pembicaraan yang dianggap penting, tidak lebih.
Mereka berdua bukanlah insan yang mudah tergoda imannya, sehingga demi menjaga ‘izzah atau menjaga hati dari segala prasangka dan godaan, mereka berinisiatif untuk menyerahkan kembali komunikasi diantara mereka melalui Faruq. Suatu inisiatif yang diawali oleh Sersan demi menunjukkan kepribadian dirinya yang kuat sebagai seorang muslim yang tangguh.
“Faruq, aku kembalikan semua ini ke kamu. Demi menjaga hati ini, komunikasi antara aku dan Dianti kukembalikan lewat kamu ya. Hal ini sudah aku sampaikan ke Dianti, dan dia setuju,” ujar Sersan kepada Faruq. Pura-pura tak mengerti apa yang disampaikan Sersan, Faruqpun bertanya,
“Memang kenapa San, kok lewat aku lagi? Bukannya lebih baik dan lebih cepat kalau komunikasi di antara kalian, kalian lakukan sendiri. Bagaimana nanti kalau ada rahasia di antara kalian yang ingin disampaikan, tapi ternyata aku ketahui, bukankah bukan rahasia lagi namanya?”
“Bukannya aku nggak mau berkomunikasi secara langsung dengan Dianti, tapi masalahnya kami kan belum menikah, dia belum jadi mahromku, dan aku pun belum jadi mahromnya. Aku harom untuknya dan dia harom untukku. Tolonglah Ruq, aku hanya ingin menjaga hatiku agar terhindar dari segala fitnah dan prasangka. Apalah artinya ta’aruf kalau ternyata yang dilakukan adalah layaknya orang berpacaran, berkomunikasi membicarakan ini itu berduaan tanpa didampingi mahromnya, walau sebatas hanya lewat telepon. Kalau seperti itu, lalu apa bedanya ta’aruf dan pacaran? Bukankah itu sama saja dengan berpacaran yang mengatasnamakan ta’aruf?” tandas Sersan kepada Faruq sembari menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Faruq tersentak kaget mendengar apa yang disampaikan Sersan, betapa bodoh dirinya membiarkan kedua temannya yang berbeda jenis kelamin itu berkomunikasi secara langsung selama ini tanpa memperhatikan dampak negatif yang mungkin timbul kemudian. Suatu pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang sahabat terbaiknya.
*****
Perkenalan yang terjadi di antara mereka sebenarnya berjalan di atas kebimbangan. Ya, kebimbangan yang mulai menggelayut dalam kalbu. Sejumlah pertanyaan, apakah benar dia adalah jodohku atau bukan, menggema kuat dalam batin mereka, terutama Dianti yang ternyata juga bergelayut dalam noktah-noktah cinta yang mulai tumbuh dan bersemi dalam hatinya. Sebagai sahabat, Faruq pun mengarahkan agar mereka beristikhoroh, meminta petunjuk pada Allah, Sang Pemberi Petunjuk.
Dianti pun segera mengikuti saran Faruq untuk segera beristikhoroh.
“Duhai Allah, Robb Pemilik segala urusan di dunia ini. Dalam genggamanMulah hati manusia terletak. Dan dalam garis takdirMu lah jodoh akan tersingkap. Wahai Robb, kirimkanlah untukku seorang lelaki soleh yang akan menjadi imamku. Seorang lelaki taat yang mampu memberikan ketentraman dalam batinku, yang bahunya akan menjadi sandaran teguh bagiku saat aku letih meniti hidup ini.
Ya Allah, Robb seluruh alam, bukan harapku cinta ini bersemi dalam kalbu. Bukan harapku pula cinta ini bersarang kuat dalam sanubariku. Tapi atas izinMu ya Allah, cinta ini hadir dan bersemayam indah dalam lubuk jiwaku. Tak mampu aku menolaknya dan tak kuasa pula aku menepisnya, cinta itu bersarang terlalu dalam di hatiku dan mengalir terlalu deras ke segenap aliran darahku.
Duhai Robb, Jika ta’aruf ini adalah baik bagiku, maka bawalah dia untukku, dekatkanlah aku padanya, dan pertemukanlah aku dengannya dalam suatu ikatan suci, pernikahan, agar sebilah tulang rusuknya yang hilang kembali terlengkapi.
Ya Allah Ya Rohman, telah Engkau hadirkan seorang lelaki soleh di depanku kini, jadikanlah lelaki soleh yang Engkau kirimkan itu sebagai imamku, peneman hidupku, untuk bersama-sama mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan. Jika memang dia baik bagiku maka dekatkanlah, namun jika dia hanya akan menjadi fitnah dan keburukan semata dalam hidupku, maka jauhkanlah kami. Lalu berikanlah seseorang yang jauh lebih baik dari lelaki manapun di dunia ini sebagai ganti terhadap dirinya.
Ya Allah Ya Rohiim, jadikan aku sebagai orang yang ikhlas atas segala kehendakMu dan orang yang ridho atas segala keputusanMu, karena aku hanya manusia biasa yang berjalan di atas garis takdirMu. Amiin.”
*****
Tiba-tiba,
“Faruq, maafkan aku, aku harus mengurus bapakku. Aku nggak bisa konsen melakukan apapun selama bapakku masih sakit, jadi aku harus pulang ke Gresik dan Surabaya untuk merawat bapak yang sudah dalam kondisi kritis. Tolong sampaikan ke Dianti, bahwa ta’aruf ini sementara waktu harus kutunda, aku hanya ingin berbakti kepada bapak untuk yang terakhir kalinya sebelum maut merenggut nyawanya.” Ucap Sersan di suatu siang saat lagi hangat-hangatnya ta’aruf yang sedang dijalaninya dengan Dianti.
Faruq dengan berat hati pun harus menyampaikan hal ini ke Dianti, penuh harapnya semoga Dianti bisa memahami apa yang tengah dialami Sersan saat ini. Dan perkenalan itupun terhenti sementara waktu sampai waktu yang tak bisa mereka tentukan.
*****
Kriiiiiiiiiing…. kriiiiiiiiiiing….
Dering suara ponsel mengalun merdu hari itu, tapi sama sekali tak ada respon dari sang empunya ponsel. Tak lama sang pemilik menelepon balik nomor yang telah menghubunginya tadi.
“Assalaamu’alaikum…maaf ini dengan siapa ya? Apa tadi Anda menghubungi nomor saya?” tanya pemilik ponsel tersebut.
“Wa’alaikum salam waroh matulloohi…Ooo..sebentar ya, mungkin tadi suami saya yang menghubungi Anda. Sebentar, saya panggilkan suami saya dulu,” jawab seorang wanita dari seberang telepon.
“Assalaamu’alaikum…halo…..,” terdengar suara seorang laki-laki datang dan mengambil alih telepon itu.
“Ya halo, wa’alaikum salam…hemmm, maaf apa tadi Anda menghubungi nomor saya? Maaf ini dengan siapa ya?” jawab pemilik ponsel yang menelepon balik tadi.
“Oo..iya, betul. Halo Dianti, ini aku, Sersan, apa kabar? Masih ingat aku kan? Kebetulan aku mau minta tolong nih.” terdengar suara laki-laki itu yang tak lain adalah Sersan menjawab pertanyaan dari sang penelepon yang tak lain adalah Dianti.
“Ya mas, alhamdulillaah baik. Maaf mas, siapa ya wanita yang mengangkat dan menjawab telepon saya tadi?” tanya Dianti kepada Sersan.
“Tadi itu istri saya, memang kenapa?” tandas Sersan menjawab pertanyaan Dianti yang penasaran dan ingin tahu.
“Apa, istri mas? Mas sudah menikah?” jawab Dianti dengan nada meninggi dan kaget.
“Ya, alhamdulillaah sudah, memang kenapa?” tandas Sersan lagi.
“Nggak mas, nggak apa-apa. Maaf mas, saya masih ada kesibukan, teleponnya saya tutup dulu ya. Wassalaamu’alaikum..” tiba-tiba Dianti coba menghentikan pembicaraan dan langsung menutup telepon.
Tak lama berselang, Dianti segera menghubungi Faruq menanyakan tentang kebenaran pernikahan yang telah dilakukan Sersan. Dengan berat hati Sersan pun membenarkan tentang hal itu sambil berkata,
“Maaf Dianti, kalau Sersan harus mengambil keputusan ini. Dia tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Beberapa bulan lalu bapaknya meninggal dunia, dan dia sangat terpukul akan hal ini. Perasaan bersalah selalu membayanginya sebab dia belum bisa memberikan yang terbaik untuk bapaknya. Dia merasa bahwa baktinya masih sangat kurang bila dibanding dengan kebaikan yang telah diberikan sang bapak kepadanya. Saat bapaknya sakit, dia berpikir belum maksimal untuk merawatnya. Sehingga agar tidak terjadi hal yang sama pada keluarganya, muncullah keinginan untuk memiliki seorang pendamping yang bisa merawat dan mengobati keluarganya kelak, terutama ibundanya. Dan akhirnya dia menemukan pendamping seperti yang diharapkannya, yaitu seorang dokter. Maafkan aku Dianti, berat bagiku untuk menyampaikan semua ini, tapi aku harus menyampaikannya. Mungkin dia belum jodohmu. Tapi percayalah bahwa akan ada lelaki terbaik yang pasti kamu dapatkan suatu saat nanti. Asalkan kamu tetap bersabar dalam menanti jodoh hidupmu, insya Allah.”
Isak suara menahan tangis terdengar dari bibir Dianti yang pilu. Bibir seorang wanita yang mengharapkan kasih sayang seorang lelaki yang telah meninggalkannya.
Tanpa Dianti sadari, sebenarnya Allah telah kabulkan doa dalam istikhoroh yang telah dilakukannya, menjauhkan Sersan darinya, sebab doa tidak harus berakhir bahagia dengan dipersatukannya cinta dua insan. Karena Allah lebih tahu rahasia dibalik cinta dan kehidupan manusia. Kini dia berusaha kuat meredam cinta di atas pahitnya takdir yang dirasakannya, semoga akan ada lelaki lain yang lebih baik dari Sersan atau lelaki manapun dalam hidupnya yang kan bisa menjadi pangeran hati dan imam untuk dirinya kelak.

cerita yang dipostkan oleh “hembusan nafas kehidupan” di FB pada tanggal 29 januari 2011 ini sangat sangat sangat sangat menyentuh dan terselip banyak makna dalam tulisan ini…

selepas baca ini… terasa…merasa…serasa… *tak terkatakan*… kenangan itu kembali mengusik… sedih, ya sedih itu begitu terasa, dan berulang kali berkata pada diri ini bersamaMu tiada sedih, bersamaMu tiada gundah, bersamaMu tiada resah… Engkaulah sang maha Pengatur yang selalu punya skenario indah bagi hamba-hambaNy

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in my notes

 

Kewajiban Ibu

Tulisan yang dikutip dari http://alqiyamah.files.wordpress.com/2008/04/kewajiban-ibu.pdf ini sebenarnya nasihat dan ditujukan buat diri sendiri #meski belum berstatus sebagai ibu, tapi calon ibu juga HARUS tau ya kan ya, 🙂 dan berharap ini juga bermanfaat bagi yang “kebetulan” membaca blog ini dan makin semangat browsing2 lewat dunia maya [baca: internet] dan dunia nyata [baca: buku, majalah], menambah pengetahuan tentang parenting sebagai salah satu proses demi menjadi “sebaik-baiknya perhiasan”… 😀

Anak, sebagai darah daging kedua orang tua, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ibunya. Anak mempunyai hak-hak yang merupakan kewajiban orang tuanya, terutama ibunya, untuk menunaikan hak-hak tersebut. Jadi bukan hanya anak yang mempunyai kewajiban atas orang tua, tetapi orang tua pun mempunyai kewajiban atas anak. Secara ringkas kewajiban orang tua atas anaknya adalah sebagai berikut:

1. Menyusui
Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqarah: 233)”

2. Mendidik
Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fittrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya.

• Menanamkan Aqidah Yang Bersih
• Mengajari Anak Shalat
• Menanamkan Kecintaan Kepada Allah dan RasuINya, dan Mendahulukan Keduanya
• Mengajarkan Al Qur’an dan Menyuruh Anak-Anak Menghafalkan
• Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Sunnah Serta Menyuruh Mereka Menjaganya
• Menanamkan Kepada Anak Agar Benci Kepada Bid’ah
• Membuat Anak-Anak Cinta Kepada Ilmu Syar’i dan Bersabar Dalam Meraihnya
• Mengajarkan Kepada Anak Untuk Meminta Izin
• Menanamkan Kejujuran
• Menanamkan Sifat Sabar
• Menyadarkan Kepada Anak Tentang Berharganya Waktu
• Menanamkan Sifat Pemberani
• Bersikap Adil Diantara Anak-Anak

Ibu adalah madrasah.
Apabila engkau mempersiapkannya,
berarti engkau mempersiapkan generasi yang kuat akarnya
Ibu adalah taman.
Jika engkau merawatnya,
dia akan hidup dengan elok,
tumbuh daunnya beraneka rupa
Ibu adalah guru pertamanya para guru
Kemuliaanya terpancar menyebar sepanjang cakrawala

Sesungguhnya anak-anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada kita. Allah akan menanyakan, apakah kita akan menjaganya atau menyia-nyiakannya. Maka wajib atas kita untuk menjaga amanah ini. Dengan keyakinan, kita mendidik generasi muslim, kita persiapkan mereka agar menjadi generasi kuat untuk menghadapi orang-orang yang menyimpangkan Al Kitab dan Assunnah.

31 januari 2011
08:35 am
Sungguh besar tanggung jawab yang akan dijelang, sangat berharap padaMu agar Engkau membimbing hamba agar menjadi ibu seperti yang Engkau mau dan bergelimang rahmatMu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in my notes

 

Anak Kost.. :D

Udah lama x ni pengen nulis tentang apa enaknya sih jadi anak kost, ehe2…

Ngekost dan berstatus anak kost,,, sudah tentu tak bisa ngerasain masakan ibu lagi, mesti ngerjain segala sesuatu sendiri *klo gak dikerjain otomatis tu kerjain tak kan beres-beres, ehe2*, mesti pandai ngelola rasa rindu sama keluarga yang sering mendera terutama ketika ada masalah, lagi tak enak badan, pokoknya saat2 suasana hati lagi mellow la, xixi… dan status ini sangat-sangat dihindari sama yang namanya anak mami tanda kutip, ehe2…

Naah, buat kamu kamu dan kamu yang masih takut buat ngekost karena ngebayangin susahnya hidup seorang anak kost, ehe2… stay tune on diz page, ehe2… banyak banget lho manfaat yang didapat kala menjadi anak kost, baiklah saia akan mencoba menguraikan sebisanya,,, 😀

1. Ngelakuin banyak hal baru
sesuatu hal baru yang kita lakukan biasanya akan menyisakan kenangan tersendiri, :D…  saia pernah manjat atap kost2an demi memasang antena eksternal tipi, karena tak da yang bisa dimintain bantu buat masangin, walhasil, saia direkomendasikan untuk dipromosikan alias diperkenalkan ke teman2 kk kost yang kuliah di teknik elektro, ck ck ck… Senaaang, karena berhasil pasang antenanya, #manjatnya dari lantai 2 jemuran koq, jadi jangan dibayangin manjat pake tangga dengan ketinggian 3 kali tinggi saia, ehe2#, dah tu juga pernah bergentayangan keluar gang nyari makan jam 10 malam sendirian karena kelaparan, untungnya deket gang ada yang jual pecel lele yang mak nyus, dan alhamdulillahnya lagi dilindungi dari segala gangguan… 😀 e iya, pernah juga tiap bulan ngitung2in pembayaran listrik dan air tiap2 anak kost dan ngerasain jadi collector uang tu “bukan debt collector ya ,ehe2”… yang ini belum bayar semua, tapi si bapak kost dah minta2, wohoho… belum lagi klo mereka ngerasa koq bayarnya kemahalan, ee malah kita yang dicerewetin, padahalkan, kite cuma ngitung doang, hoho…

2. Mandiri
Klo istilah mandiri bisa diterjemahkan dengan keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, naah, status sebagai anak kost ini telah melatih saia buat “sedikit” lebih mandiri, xixi… saia paling tak suka klo abang yang antar gallon menjalankan tugasnya masang gallon dan jadilah terjadilah saia kumpulkan energy buat angkatin gallon ke dispenser dengan memanfaatkan prinsip fisika, ehe2, terus juga pasang lampu kamar yang rusak sendirian yang diawali dengan angkat tangga sendirian, wohoho…dikarenakan anak kost yang laen pada tak di kost. Banyak lagi sih hal-hal yang dulunya tak kepikiran mau dilakukan sendiri, pas ngekost udah bisa ngerjain sendiri… “ini bagian dari pendewasaan gak ya?? , ehe2…”

3. Meningkatkan kemampuan management
Berhubung tak ada sesiapa yang ngurusin kita, maka kita shendhirhi lah yang ngurusin diri, dan ini butuh management yang muantaff, ehe2… terutama klo aktivitas di kampus menyita banyak waktu, naaah, sejak ngekost ini lah saia mulai terbiasa membuat to do list biar gak ada hal-hal yang kelupaan dikerjaan dalam waktu yang tertera… semua aktivitas mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi kita sendirilah yang merencanakan apa2 yang nak dibuat, gak ada yang ngatur, jam segini mesti ngerjain ini, jam segini harus begini, jam segitu hari begitu, 😀

4. Melatih kemampuan menyelesaikan perkerjaan rumah tangga
Ini tidak hanya buat para calon ibu sih, tapi juga buat para calon ayah [e beneran, kan nti bisa meringankan pekerjaan istri, ehe2…] ok, mari lanjut, seperti kebanyakan orang yang selalu anggap gampang pekerjaan yang satu ini, tapi pada dasarnya ini pekerjaan yang butuh keterampilan juga, so harus dilatih, betul tidak?? 😀 misalnya aja ni, nyetrika, mungkin semua orang sih bisa nyetrika tapi gak semua orang bisa nyetrika yang rapi… #jadi teringat, teman waktu asrama di SMA dulu, yang klo nyetrika tu selalu sedia penggaris, what for?? Itu tu, buat ngukur lebar baju-baju yang udah dilipat, semuanya samaaaa lebarnya jadi klo di lemari tu bener bener rapiiiiii, ini juga hasil pendisiplinan mister nasir sang koordinator asrama. 😀 #jadi kangen teman2 SMA, ohoho… kemudian juga kemampuan menata benda benda agar sedap di pandang mata, klo di rumah ni, biasanya si ibu udah melakukan hal ini hingga si anak dah terima rapi aja. 😀

5. Meningkatkan kemampuan komunikasi dan bersosialisasi dengan tetangga
Kenapa begitu?? Bukannya klo di rumah alias gak ngekost juga bisa?? Iya siih, tapi dengan ngekost kemampuan ini bisa lebih ditingkatkan alias otomatis meningkat, bagaimana tidak, gak enak banget kan klo sendirian di kamar, klo sesekali tak apa2, tapi klo terus2an dijamin ngerasa bosan deh. Nah, mulai lah mencipta komunikasi dengan anak2 kost yang lain, kayak ngajakin makan malam bareng, jalan bareng, tukaran informasi tentang fakultas dia *biasanya kita akan menemukan teman2 kost yang berbeda2 fakultas*, enak khan? Saia pernah sekost sama anak psikologi, anak teknik, FK, farmasi, FKM, anak fisioterapi juga pernah, jadinya bisa berbagi kesah. Pas lagi belajar metopel, dph tentang epidemiologi, statistik dan bla bla gitu, bisa mampir ke kamar sebelah buat tanyaktanyak sama anak FKM, terus juga bisa pinjam2 buku yang kebetulan juga mereka pelajari, 😀 Nah, cerita cerita tentang kemampuan komunikasi, bisanya ni anak kost membudayakan budaya pinjam meminjam, nah, ini juga ngelatih kemampuan komunikasi tooh?? 😀 Namanya juga anak kost, tak la punya peralatan selengkap di rumah, ehe2…

Hmm… sampai di sini dulu ye, lain waktu d sambung lagii, 😀
27 jan 2011
03:17 pm

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 27, 2011 in my notes

 

27 jan 2011

gak tau mau kasi judul tulisan in ap, jadi kasi tanggal hari ini aja, ehe2…

Belum pernah merasa seperti ini…

Entah kenapa, kali ini merasa begitu cemas, hmm, mungkin lebih tepatnya khawatir sih, khawatir dengan lingkungan yang akan ditemui di kehidupan setelah hari ini, khawatir akan bertemu dengan orang-orang baru yang beragam pola pikir, dan juga sedih karena akan berjauhan dengan orang-orang yang sekarang telah membuat indah setiap hari yang dilewati. Kalimat sederhananya sih, sediiiih bakalan pisah sama teman2 karena masing-masing bakalan ngejalanin hidup bukan sebagai mahasiswi atau anak co ass lagi, tapi sebagai individu yang makin banyak berinteraksi dengan masyarakat. Sebenernya sih gak perlu mencemaskan apa yang akan terjadi esok, bagaimana hari esok yang kan dijelang, karena itu hanya akan membuat hari ini tak bahagia, tapi tetap saja, perasaan ini tetap singgah di hati… hoho… Alhamdulillah, kata2 ini tetap selalu hadir ditengah kegalauan ini, berharap di kehidupan setelah hari ini tetap berada ditengah2 orang2 yang membuat makin dekat denganNya… amiiin

Tiada terasa, 5 tahun lebih sudah menghirup udara kota medan ini. Belajar banyak hal di sini, banyaaaaaak sekali…  teringat waktu baru-baru di medan, pernah nangis habis disapa sama bapak kost, klo di pikir2 lucu sih, ehe2… si bapak cuma nanya, kamu udah bayar uang listrik apa belum, tapi dengan gayanya itu ngerasa kayak dimarahin, ee malah mewek aj, ehe2… baru-baru datang ke sini, sering shock denger orang-orang di sekitar dengan nada tak rendah dan ekpresi sedikit tak ramah “kelihatannya” tapi sebenernya mereka bukan marah, ehe2… lama lama mulai terbiasa dengan suasana… emang sih setiap “terjun” di lingkungan baru selalu butuh penyesuaian diri, 😀

Dulu, waktu baru masuk kuliah, ngeliat kakak-kakak senior yang udah co ass tu, rasanya pengen cepat2 co ass, terlintaslah pertanyaan yang tak perlu dijawab *kapan yaa kita jadi anak co ass??* xixi… pengen ngerasain ngerawat pasien, trus koq kayaknya co ass tu enak ya, kayaknya lebih nyante dari pada mahasiswa yang mesti nangkring di jam2 jadwal kuliah yang kadang buat tak sempat makan siang, tugas makalah dan entah apa lagi tu namanya, belom lagi klo udah minggu2 ujian, praktikum yang habiskan lebih banyak kalori dibanding denger materi kuliah…ehe2… Hmm, jadi teringat, waktu awal-awal masuk semester 6, ngalamin alergi terparah seumur-umur cuma karena takut berlebihan ngebayangin praktikum2 yang menghiasi semester ini, ehe2… sempat buat bolak balik ke sp.kk dan terdiagnosa EM minor,,, hoho…

Waktu tu rasanya bahagia x la klo udah co ass nti, naaaah, setelah menyelesaikan skripsi, dan memulai aktivitas co ass, apa yang dirasakan?? Malah kangen waktu-waktu kuliah, emang seneng sih, karena satu tahap “perjuangan” dah terlewati, tapi seiring dengan itu makin banyak juga tantangan yang dihadapi, alias butuh manajemen emosi lebih. Seperti pernyataan dari salah seorang dosen… “tingkat stress anak-anak co ass FKG ni tinggi”.. hmm, kayaknya emang bener sih, ehe2.. ngerasain kayak gitu soalnya, 😀 fakta yang saia temui: co ass membuat ambang rasa stress saia meningkat, ehe2… alhamdulillah… 😀

Ngeliatin para senior2 yang dah drg, duu, senang kali tengoknya, kayaknya lega kali ya, jadi pengen cepat2 siap co ass, karena dah gak perlu lagi mikirin minreq2, memanage waktu buat perawatan pasien2, lebih pening lagi klo pasien yang tak ada, ohoho… naaah, sekarang setelah tak perlu lagi dihantui sama si minreq, tapi koq rasa senang yang dirasa tak seperti senang yang dulu dibayangin ya, tapi senang itu ada, tetap ada,,, hmm, mungkin karena dikurangi oleh rasa sedih karena akan berpisah dengan teman2… #ya iya la ya, yang namanya perpisahan itu sedih, apalagi dengan seseorang yang telah memberi banyak arti di hidup ini. Terkenang lagi dengan teman-teman yang membuat saia betah, sangat sangat betah berada di sini… huhu

Untuk mencegah terabaikannya momen2 penting dalam beberapa hari terakhir ini #karena saia mengidap lupitis kronis alias pelupa sangat yang kronis, marilah kemari hey hey… marilah saia cantumkan tanggal bersejarah yang telah masuh ke dalam daftar momen2 penting dalam hidup saia.. 😀

30 desember 2010, dinyatakan lulus dan hari itu pula mendaftar untuk ikut pengambilan sumpah dokter gigi dan wisuda. Terakhir kali nilai konser yang keluar… dimulakan dengan konser [sebelum co ass dimulai dengan skripsi dikonser maksudnya, ehe2] dan diakhiri dengan konser, :D… Dengan no alumni 2753, 😀 kemarin tu sempat sedih juga kenapa koq nilainya lama x dikeluarkan karena liburan sekolah udah hampir berakhir dan terancam tak jadi liburan bareng si adek… dan sekarang seakan menemukan hikmah dari kejadian itu [baca: nilai konser yang lama kali keluar] … Dia yang maha pengatur sungguh punya skenario indah disetiap hal yang menimpa hambaNya. 😀

19 januari 2011, pengambilan sumpah dokter gigi di ruang nazir alwi FKG USU, serasa dihinggapi satu beban yang amat besar, karena sekarang punya kewajiban yang itu butuh perhatian besar. Mulai tersadar, klo sekarang bukan lagi anak ayah yang tak dewasa, bukan lagi anak ibu yang manja, #tapi tetap anak ayah dan ibu koq, ehe2… Ketika sumpah itu diucapkan, hati ini benar benar haru, pilu, dan tetesan bening pun hadir. Berharap ini jadi hadiah terindah buat ibu, ayah, dan semua orang yang telah banyak membantu hingga terukir hari indah ini.

22 januari 2011, wisuda di auditorium USU, perasaannya tak sesenang ketika diwisuda SKG kemarin [tanggal 1 agustus 2009], malah di dalam audit tu tekantuk2 nunggu para wisudawan lain yang diwisuda oleh rektor dan dekannya. Hoho…

26 Januari 2011, ujian kompetensi di ruang nazir alwi, mulai jam 9 am, dengan no peserta 20110038, dihadapkan dengan100 soal yang terdiri dari … halaman (lupa ngitungin halamannya, tapi berlembar lembar lembar lembar, ohoho), berhasil membuat mata sedikit berkunang2, tangan tum’pegel’he ngebulatin jawaban di lembar jawaban, dan hati dag dig dug menunggu bagaimana hasil ujiannya nanti, yang katanya mungkin sebulanan kedepan baru diumumkan, hohoho…. Berharap, sangat sangat berharap, semoga Engkau mengizinkan saia dan teman-teman lulus ya Rabb, amiiiin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 27, 2011 in my notes

 

tentang kamu part 3

Selepas dari “bintang saudara” mampir ke thamrin bersama “siapa lagi klo bukan” kamu, 😀 mulanya sih cuma nak tengok-tengok mana tau ada sesuatu hal yang disukai hati buat dibeli, teringat waktu tu dapat pegalaman tak enak waktu di parkiran, sabar sabaaaar… 😀 Pas nyari-nyari tempat sholat, lewatin 21, sedikit histeris karena mata ini tertatap poster gede pilem [baca: film] yang tertera di gambar di atas, ehe2… si kamu kira film ini baru release tanggal 24 ee ruparupanya hari ini “tanggal 23 desember maksudnya”, kamu emang semangat kali nak nonton ini sedari dulu… bagai spongebob ketemu patrick yang nak maen tangkap ubur-ubur… “semangatnya maksudnya…ehe2”… saia dan kamu melangkah secepat yang dibisa daaaaan akhirnya tiket pun di tangan. 😀 😀
Tak mau berkomentar tentang alur cerita, acting para aktornya #bukan kompetensi ane, ehe2…klo penasaran mending nonton sendiri aja dah, klo pun masih ada filmny di bioskop, hoho… cuma mau bilang soundtrack nya enaaaaak kali alias liriknya bermakna sangat bagi saia… “perasaan, semua lagu yang mellow mah ane bilang enaaaak, ehe2”… diantara ke 5 lagu tu, lagu Oky setiana dewi dan andi arsyil rahman yang berjudul karena hati bicara yang paling saia suka, xixi

 

mengharungi samudera mahligai nan suci
penuh gelombang silih berganti
semua adalah ujian penguat cinta
bila hati bicara

* terkadang tak perlu terucap kata-kata
untuk selami dalamnya hatimu
susah senangmu jadi bagian hidupku
karena hati bicara

reff:
tatap manja matamu kisahkan berjuta cerita
hadirmu di hidupku memberikan berjuta makna
karunia Illahi mempersatukan dua hati
ku rasa yang kau rasa karena hati bicara

repeat *
repeat reff [3x]

ku rasa yang kau rasa karena hati bicara

begitulah liriknya, hari ini kayaknya saia udah putar lagu ini puluhan kali, tapi koq gak bosan ya?? ehe2… saia teringat akan kamu saat dengerin lagu ini karena karunia Illahi mempersatukan dua hati, ku rasa yang kau rasa karena hari bicara, hoho….so sweet… sangat sangat suka lagu ni… 😀

medan
16th jan, 2011
1:09 pm

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 16, 2011 in my notes

 

TEMAN

teman…
Putih awan bisikkan sosok insan yang utama
Kini engkau merapat di sana
Belaian rahmat-Nya menyapamu
Rindumu kepakkan sayap sang pelangi
Naungi bintik harmonis
Nestapa menyulam di hati
Terlelap diantara diam
Hadirkan resah yang kini hanya menyisakan suka
Kami sungguh mengerti semua yang engkau rasa
ingin ungkapkan rasa yang terindah
Dalam luruhnya pengharapan
Padanya insan yang utama
Bahagia kami menyatu dalam bahagiamu
Teman, barakallah….

Medan, 25 desember 2010
Pagi hari… sesaat sebelum bersiap-siap menghadiri the greatest moment of my friend life [baca: akad nikah, red].. 😀

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 14, 2011 in poetry